Ketika lulus SMA di awal tahun 70an, tidak terbersit sedikitpun di pikiran saya untuk melanjutkan pendidikan atau kuliah di perguruan tinggi. Bahkan saya tidak tahu mau berbuat apa. Orangtua saya, tanpa bermaksud menyalahkan, tidak mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi apa, seolah mereka menyerahkan kepada masing-masing anak ingin menjadi apa. Yang saya ingat ayah hanya pernah bertanya, kamu mau jadi apa, atau apa cita-citamu. Saya juga merasa orang tua saya kurang memberi wawasan tentang kehidupan selanjutnya setelah menamatkan sekolah menengah atas. Dari semua saudara, mungkin hanya kakak nomor dua yang jelas saya tahu memiliki cita-cita sedari kecil, ýaitu menjadi penerbang. Di kemudian hari dia benar-benar mencapai cita-citanya menjadi seorang penerbang di Angkatan Udara bahkan sempat menyandang pangkat Marsekal, bintang empat dan menjadi orang nomor satu di matra udara TNI.
Ntah kenapa, pada masa itu bagi sebagian orang, nganggur setelah lulus SMA, tidak sekolah tidak juga bekerja, menjadi suatu yang 'sesuatu', termasuk bagi saya. Mungkin karena sejenak merasa merdeka tidak lagi harus bangun pagi atau berada di sekolah sebelum jam 7 pagi.Tapi beberapa bulan menganggur, saya mulai bosan hanya berdiam diri di rumah atau nongkrong-nongkrong gak karuan, dan mulai rajin membaca iklan lowongan di koran. Sasaran saya adalah bekerja atau sekolah kedinasan alias sekolah yang tidak bayar, syukur-syukur malah mendapat uang saku.
Pada jaman itu, dalam membuat lamaran utamanya adalah: Surat Lamaran dan Daftar Riwayat Hidup yang ditulis tangan. Selain itu diperlukan Surat Keterangan Berkelakuan Baik dan Surat Keterangan Tidak Terlibat G30S. Dua surat keterangan ini paling menjengkelkan, mengurusnya ke Kepolisian, berlakunya hanya tiga bulan. Setelah tiga bulan, kalau memerlukannya lagi harus mengurusnya lagi.
No comments:
Post a Comment